1 Mei 2026 281 kali dibaca
PHP yang Abadi
Bahasa yang paling sering diejek di internet adalah bahasa yang menjalankan sebagian besar internet. Itu bukan kebetulan.
Ada satu fakta yang sering disembunyikan di balik diskusi modern tentang bahasa pemrograman: lebih dari 70% website yang punya server menggunakan PHP.
WordPress sendiri mencakup ~43% dari semua website di dunia. Magento, Drupal, Joomla, Laravel, Symfony — semua di atas PHP. Facebook dimulai dengan PHP, dan walaupun di-rewrite ke Hack, masih banyak warisan PHP di dalamnya. Wikipedia berjalan di MediaWiki yang ditulis dalam PHP.
Tapi di Hacker News, Twitter dev, blog teknis — PHP jarang muncul tanpa nada mengejek. Itu pemandangan aneh: bahasa yang paling banyak dipakai di dunia, paling jarang dibahas serius.
PHP lahir 1994 dari tangan Rasmus Lerdorf yang ingin tracking visitor di CV online-nya. Tidak ada desain bahasa. Tidak ada filsafat. Hanya sekumpulan macro C yang berkembang lewat akumulasi.
Sintaks awal PHP adalah hasil dari "apa yang Rasmus butuhkan minggu ini". Itu yang membuat lapisan pertama PHP tampak seperti gudang yang tidak pernah disusun.
PHP 4 (2000) menambahkan OOP yang setengah hati. PHP 5 (2004) memperbaiki itu. PHP 6 dirancang ulang dari awal selama bertahun-tahun, lalu dibuang sepenuhnya. Tim langsung lompat ke PHP 7 (2015).
PHP 7 adalah momen kebangkitan. Performance dua kali lipat. Type declaration di parameter dan return value. Spaceship operator. Pengelolaan error yang matang.
PHP 8 (2020) menambahkan JIT compiler. Named arguments. Match expression. Constructor property promotion. Enums (di 8.1).
PHP modern hampir tidak terlihat seperti PHP 4 yang dikenal banyak orang.
Yang membuat PHP bertahan bukan kecerdasan desain. Justru kebalikannya.
PHP adalah bahasa yang paling dekat dengan request-response model HTTP. Setiap request memulai proses bersih, mengeksekusi script, mengirim response, mati. Tidak ada state global yang harus dipertahankan. Tidak ada event loop yang harus dipikirkan.
Untuk web programmer junior tahun 2005, ini langsung dimengerti. Tidak ada konsep server long-running yang bisa crash. Tidak ada deployment yang rumit — upload .php file ke server FTP, selesai.
Kemudahan deployment ini yang membuat PHP menyebar di hosting murah Asia, Eropa Timur, Amerika Latin. Setiap shared hosting di mana saja sudah pasti support PHP. Bahasa lain butuh setup; PHP sudah ada.
WordPress melekat ke ekosistem ini. Ribuan blog kecil, situs UMKM, portal lokal — semua jalan di PHP karena tidak ada alternatif yang sama murah dan mudah.
Laravel modern (versi 11+, rilis 2024) terasa seperti Rails dengan rasa berbeda. Symfony lebih seperti Java enterprise. Sintaks-nya bisa elegan di tangan yang tepat.
Laravel di-update terus. Composer (package manager) menggantikan PEAR yang lama dan kacau. PSR (PHP Standard Recommendation) menyatukan idiom antar-framework. PHPStan dan Psalm memberi static analysis yang sebanding dengan TypeScript.
Kalau seseorang menulis PHP modern hari ini dengan Laravel + types + PHPStan, kode-nya tidak terlihat memalukan. Itu pengakuan yang banyak komunitas tech enggan beri.
Tidak ada yang akan mendaftar sebagai "PHP developer" sebagai pencapaian karir di Silicon Valley. Tidak ada keynote di JSConf yang dimulai dengan "Mari kita migrate ke PHP". PHP bukan bahasa yang trendy.
Tetapi PHP juga bukan bahasa yang akan hilang. Stabilitas-nya adalah pilar internet itu sendiri. WordPress akan tetap di sana 10 tahun lagi. Laravel jobs akan terus ada.
Ironi terbesar: bahasa yang paling sering disebut "tidak serius" sebenarnya yang paling serius dipakai. Setiap kali Anda baca tutorial JavaScript modern di blog WordPress, Anda sedang membaca peradaban yang ditopang PHP — yang tetap diam, tetap bekerja.