<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
	<channel>
		<title>Roger Wenas</title>
		<link>https://roger.wenas.my.id</link>
		<description>Catatan, reportase, dan esai dari Jakarta.</description>
		<language>id-ID</language>
		<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2026 01:00:00 GMT</lastBuildDate>
		<atom:link href="https://roger.wenas.my.id/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<item>
			<title>Yang Tertinggal di Ruang Tunggu</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/yang-tertinggal-di-ruang-tunggu</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/yang-tertinggal-di-ruang-tunggu</guid>
			<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Tiga jam di terminal kedatangan, satu sosok yang tak pernah datang, dan apa yang akhirnya saya pahami tentang kesabaran.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pukul 23:47, papan kedatangan masih menampilkan status yang sama: <strong>DELAYED</strong>. Tidak ada estimasi baru. Tidak ada pengumuman. Hanya bunyi sepatu petugas kebersihan yang menyeret ember dari ujung ke ujung lorong yang nyaris kosong.</p>
<p>Saya sudah duduk di bangku besi yang sama selama tiga jam. Buku yang saya bawa sudah selesai dibaca. Baterai laptop habis. Yang tersisa hanya satu hal yang terus saya tolak akui: kebiasaan menunggu sudah tidak saya miliki lagi.</p>
<h2>Dulu, menunggu adalah kerja</h2>
<p>Generasi orangtua saya menunggu sebagai bagian dari rutinitas. Surat butuh dua minggu. Kabar dari kerabat di kota lain perlu telegram. Bahkan untuk berbicara dengan mertua, ibu saya harus mengantre di wartel selama setengah jam.</p>
<p>Mereka tidak menunggu dengan tidak sabar. Mereka <em>bekerja</em> dengan menunggu. Membuat kopi, menyulam, mendengarkan radio. Menunggu adalah kondisi default, bukan gangguan.</p>
<p>Hari ini saya tidak bisa lagi seperti itu. Setiap dua puluh detik tangan saya merogoh saku, mencari ponsel yang batterynya sudah habis, mencari distraksi. Menunggu, tanpa input baru, tanpa scroll, tanpa notifikasi — terasa seperti kekerasan.</p>
<h2>Yang akhirnya datang</h2>
<p>Pukul 02:14, pesawat itu mendarat. Saya berdiri di depan pintu kedatangan internasional, di antara puluhan orang lain yang juga sudah lupa kapan terakhir mereka tidur.</p>
<p>Sosok yang saya tunggu — dia tidak datang. Bukan karena ada masalah; dia memang tidak ada di pesawat itu. Saya salah hari. Saya salah bandara, mungkin. Saya hanya tahu bahwa selama tiga jam saya menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang, dan ironisnya itulah momen di mana saya akhirnya berhenti memeriksa ponsel.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Catatan dari Pinggir Rel Manggarai</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/catatan-pinggir-rel-manggarai</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/catatan-pinggir-rel-manggarai</guid>
			<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Pukul empat pagi, sebelum kereta pertama, kota ini adalah milik mereka yang tidak tidur dan tidak bisa pulang.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pukul 04:12, saya berdiri di jembatan penyeberangan stasiun Manggarai. Di bawah, rel-rel itu kosong, basah karena hujan yang baru saja berhenti. Lampu kuning sodium membuat semuanya terlihat seperti foto lama.</p>
<p>Di sini, sebelum kereta pertama dari Bogor datang, kota ini bukan milik penumpang. Ini milik mereka yang tidak tidur — penjual gorengan yang baru saja membongkar grobaknya, petugas kebersihan rel, anak-anak muda yang pulang dari kerja shift malam, dan orang-orang yang saya tidak tahu kemana mereka akan pulang.</p>
<h2>Pak Karim</h2>
<p>Saya berkenalan dengan Pak Karim di pojok peron. Dia menjual kopi sachet dan teh manis dari termos. Pelanggannya hanya petugas dan satu-dua orang seperti saya, yang entah mengapa ada di stasiun pukul empat pagi.</p>
<p>&quot;Saya mulai jam tiga,&quot; katanya, sambil menuang teh ke gelas plastik kecil. &quot;Kereta pertama keluar jam lima dua puluh. Sebelum itu, yang beli ya petugas saja. Tapi saya tetap datang. Kalau saya datang jam lima, sudah keduluan tukang kopi keliling.&quot;</p>
<p>Dia bekerja tujuh hari seminggu. Hari Lebaran libur dua hari. Itu sudah selama dua puluh tiga tahun.</p>
<p>&quot;Dulu, jaman saya muda, jam segini banyak yang nongkrong di sini. Sekarang sepi. Anak muda sudah punya kopi enak di mana-mana.&quot;</p>
<h2>Kembali ke peron</h2>
<p>Kereta pertama datang pukul 05:24. Bukan dari Bogor — dari Bekasi. Tiga gerbong, hampir kosong. Beberapa orang yang naik bahkan tidak melirik papan jadwal. Mereka tahu rutenya, hafal dengan kerjanya, sudah selesai dengan keterkejutan apa pun.</p>
<p>Di sini, di pinggir rel, saya teringat sebuah hal yang sering dilupakan: kota tidak tidur, hanya berganti pemilik beberapa kali sehari.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Tentang Membaca Ulang Surat Lama</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/membaca-ulang-surat-lama</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/membaca-ulang-surat-lama</guid>
			<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Ada sesuatu yang berbahaya dalam membuka kembali kotak yang seharusnya tetap tertutup — dan sesuatu yang menyembuhkan.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kotak itu sudah saya simpan selama dua belas tahun. Pindah rumah empat kali, dia ikut. Tidak pernah saya buka, tapi tidak pernah pula saya buang.</p>
<p>Minggu lalu, saat membersihkan gudang, saya akhirnya membukanya. Di dalamnya: surat-surat tulisan tangan dari masa SMA, beberapa kartu pos dari teman yang sekarang sudah meninggal, dan satu buku catatan dari tahun pertama kuliah.</p>
<h2>Yang saya baca</h2>
<p>Saya membaca semuanya dalam satu malam. Sekitar tiga jam. Beberapa kali harus berhenti untuk minum air, karena tenggorokan saya mengering — bukan karena emosi, tapi karena saya menahan napas.</p>
<p>Yang mengejutkan saya bukanlah betapa naifnya saya dulu. Itu sudah saya duga. Yang mengejutkan adalah betapa <strong>jujurnya</strong> saya dulu — pada diri sendiri, pada teman-teman, pada hal-hal kecil yang sekarang sudah saya lupa untuk perhatikan.</p>
<blockquote>
<p>&quot;Hari ini hujan deras dari pagi. Aku tidak ke kampus, dan rasanya tidak apa-apa. Mama bikin sayur asem.&quot;</p>
</blockquote>
<p>Catatan itu, dari sembilan belas tahun yang lalu. Tidak ada yang penting di dalamnya. Tapi saya sadar: saya sudah lama tidak menulis kalimat sesederhana itu.</p>
<h2>Yang akhirnya saya simpan</h2>
<p>Saya tidak membuang isi kotak itu. Saya juga tidak menyimpan semuanya. Saya keluarkan beberapa surat dan satu kartu pos, lalu saya pasang di dinding kerja.</p>
<p>Bukan untuk nostalgia. Untuk pengingat: bahwa ada satu versi diri saya yang dulu lebih jujur dari yang sekarang, dan dia masih bisa diajak berbicara, kalau saya mau diam cukup lama.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>&quot;Saya Tidak Pernah Berniat Jadi Penulis&quot;</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/tidak-pernah-berniat-jadi-penulis</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/tidak-pernah-berniat-jadi-penulis</guid>
			<pubDate>Wed, 08 Apr 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Percakapan dengan seorang mantan editor majalah yang kini mengelola warung kopi di Salatiga.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Anton — bukan nama sebenarnya — meminta saya tidak menyebut nama majalahnya. &quot;Sudah lama. Kasian yang sekarang masih kerja di sana.&quot; Dia tertawa, lalu menambah, &quot;Lagipula, sudah tutup.&quot;</p>
<p>Kami duduk di teras warung kopinya di Salatiga. Pukul sebelas pagi, sepi. Hanya ada saya, dia, dan seorang kucing oranye yang tidak henti-hentinya berusaha duduk di laptop saya.</p>
<h2>Awalnya</h2>
<p>&quot;Saya masuk majalah itu karena tidak diterima di mana-mana,&quot; katanya, sambil menggiling biji kopi sendiri di meja. &quot;Saya kira jadi editor itu pekerjaan administratif. Mengoreksi typo, atur layout, beres.&quot;</p>
<p>Pak Anton tidak pernah berniat menulis. Dia kuliah hukum, gagal jadi pengacara, lalu mendaftar ke majalah berita karena seorang tantenya kenal pemiliknya.</p>
<p>&quot;Tahun pertama, saya cuma proofread. Tahun kedua, ada wartawan yang bunuh diri — maaf, tapi itu yang terjadi — dan saya disuruh menulis obituari karena kantor sedang kacau. Setelah itu, saya tidak pernah kembali ke proofreading.&quot;</p>
<h2>Yang dia rindukan</h2>
<p>&quot;Yang saya rindukan dari majalah itu bukan deadline,&quot; katanya. &quot;Bukan ruang redaksi yang gaduh. Bukan juga diskusi panjang soal headline. Yang saya rindukan adalah perasaan bahwa saya sedang menulis untuk seseorang yang spesifik.&quot;</p>
<p>Dia menyajikan kopi kepada saya. <em>V60 Single Origin</em>, katanya, asal Garut. Dia tidak memberi gula, dan saya tidak meminta.</p>
<p>&quot;Sekarang orang menulis untuk algoritma. Tidak salah. Tapi rasanya beda. Dulu saya menulis sambil membayangkan satu pembaca. Ibu rumah tangga di Bandung yang langganan majalah itu tiga belas tahun. Kalau saya nulis cerita panjang, dia yang saya pikirkan.&quot;</p>
<h2>Sekarang</h2>
<p>Pak Anton tutup majalah itu tahun 2018. Dia pindah ke Salatiga karena udaranya dingin dan tidak ada yang mengenalnya. Warung kopinya tidak punya nama — papan di depan cuma bertulis &quot;kopi&quot;.</p>
<p>&quot;Saya masih menulis,&quot; katanya. &quot;Catatan tangan, di buku. Bukan untuk siapa-siapa. Kadang saya bakar.&quot;</p>
<p>Saya tanya kenapa dibakar. Dia diam beberapa detik, lalu menjawab:</p>
<p>&quot;Karena yang sudah ditulis untuk dirimu sendiri, tidak perlu ada lagi setelah dibaca.&quot;</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Pelajaran dari Tiga Tahun Bekerja Sendirian</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/pelajaran-bekerja-sendirian</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/pelajaran-bekerja-sendirian</guid>
			<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Saya mengira sedang membangun karier. Yang sebenarnya saya bangun adalah ketakutan akan kerja bersama orang lain.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga tahun lalu saya berhenti dari kantor terakhir saya. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada tawaran lebih baik. Saya berhenti karena saya yakin saya bisa kerja sendiri, lebih bebas, lebih produktif.</p>
<p>Tiga tahun kemudian saya menulis ini di sebuah kafe yang penuh, sengaja memilih tempat ramai, karena tidak tahan lagi mendengar suara saya sendiri.</p>
<h2>Pelajaran #1: Produktivitas itu mitos</h2>
<p>Bulan pertama saya mengerjakan proyek empat kali lebih cepat dari di kantor. Tidak ada meeting. Tidak ada interupsi. Tidak ada politik.</p>
<p>Bulan kelima, saya mulai menyadari saya sedang menyelesaikan tugas-tugas yang seharusnya tidak saya kerjakan sama sekali. Tidak ada yang menanyakan, &quot;kenapa kita melakukan ini?&quot; Tidak ada yang menggugat asumsi saya.</p>
<p>Output saya tinggi. Outcome saya nol.</p>
<h2>Pelajaran #2: Kesepian itu menular ke kode</h2>
<p>Lihat repo saya dari tahun pertama: kode rapi, dokumentasi minim, tidak ada test. Saya pikir saya sedang efisien. Sebenarnya saya sedang menulis kode yang <strong>hanya saya yang bisa baca</strong>, karena tidak ada orang lain yang akan membacanya.</p>
<p>Setelah dua tahun, saya buka ulang kode itu untuk mengerjakan fitur baru. Saya tidak mengerti tulisan saya sendiri.</p>
<p>Berkolaborasi membuat kode lebih sederhana, walaupun terasa lebih lambat. Itu trade-off yang saya remehkan.</p>
<h2>Pelajaran #3: Yang sebenarnya saya hindari</h2>
<p>Saya kira saya menghindari meeting yang tidak produktif, manajer yang membuat keputusan buruk, kolega yang lambat respon.</p>
<p>Yang sebenarnya saya hindari: <strong>harus diadu pendapat saya dengan orang lain yang tidak satu kepala dengan saya</strong>. Itu lebih nyaman dihindari, tapi itu juga di mana ide saya seharusnya terbentur dan kemudian membaik.</p>
<p>Tiga tahun bekerja sendiri, saya sadar saya bukan jadi lebih cerdas. Saya hanya jadi lebih nyaman dengan kebodohan saya sendiri.</p>
<h2>Yang saya akan lakukan</h2>
<p>Saya tidak akan masuk kantor lagi — itu bukan jawaban juga. Tapi saya mulai mencari teman kerja: bukan kolega, bukan klien, tapi satu atau dua orang yang <strong>mau saya tidak setujui</strong> secara teratur.</p>
<p>Itu, ternyata, yang saya butuhkan dari awal.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Stasiun Lempuyangan, Setelah Hujan</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/stasiun-lempuyangan-setelah-hujan</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/stasiun-lempuyangan-setelah-hujan</guid>
			<pubDate>Wed, 25 Mar 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Pukul tujuh malam, lantai stasiun masih basah, dan saya menunggu kereta yang sebenarnya tidak harus saya naiki.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan deras baru saja berhenti waktu saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Lantainya masih basah, atap kanopi besi tua itu masih meneteskan air dengan ritme yang aneh — tidak teratur, tetapi tidak juga sembarangan.</p>
<p>Saya menunggu kereta ke Solo. Sebenarnya saya tidak harus pergi ke Solo. Saya hanya ingin pergi.</p>
<h2>Bangku panjang itu</h2>
<p>Di bangku panjang dekat peron, ada seorang ibu menyusui bayinya, ditutupi selendang batik. Di sebelahnya, suaminya tertidur dengan tangan masih memegang gelas kopi plastik. Di seberang, dua remaja main HP tanpa bicara satu kata pun selama empat puluh menit saya duduk di sana.</p>
<p>Stasiun bukan tempat yang pernah saya pikirkan. Bandara terasa seperti hal — teknologi, sterilisasi, sistem. Stasiun terasa seperti orang. Berbeda kelas, beda tujuan, semuanya di satu lantai yang sama, semuanya menunggu hal yang sama: kereta.</p>
<h2>Kereta saya datang</h2>
<p>Pukul 19:48, kereta saya datang. Saya naik. Tidak ada yang spesial dari perjalanan itu. Tiga jam ke Solo, satu malam tidur di hotel kecil, lalu pulang besoknya naik kereta yang sama dari arah berlawanan.</p>
<p>Tetapi sesuatu mengganjal: saya pulang dengan tenang yang tidak saya bawa pergi.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Ke Mana Kucing-Kucing Pasar Senen Pergi?</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/kemana-kucing-pasar-senen</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/kemana-kucing-pasar-senen</guid>
			<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Sepuluh tahun lalu, kucing-kucing menguasai gang-gang Pasar Senen di malam hari. Mereka sekarang hilang.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepuluh tahun lalu, kalau kamu lewat gang belakang Pasar Senen pukul sebelas malam, kamu akan ketemu paling tidak dua puluh kucing. Mereka penguasa malam itu — tidur di atap gerobak, bertengkar pelan di lantai pasar yang baru disapu, mengintip dari celah kios yang sudah ditutup.</p>
<p>Bulan lalu saya kembali ke sana. Pasar Senen sudah direnovasi. Lantai keramik, lampu LED, kios-kios beraturan. Bersih.</p>
<p>Tidak ada satu pun kucing.</p>
<h2>Pak Eman</h2>
<p>Saya tanya Pak Eman, tukang parkir di lantai dasar yang sudah dua puluh tahun di sana. Dia tertawa sambil mengangkat bahu.</p>
<p>&quot;Kucing pergi karena tikus pergi, mas. Tikus pergi karena makanan tidak buang lagi sembarangan. Sekarang serba plastik tertutup. Kucing tidak punya alasan.&quot;</p>
<p>Saya tidak yakin apakah itu jawaban yang benar, tetapi saya percaya itu benar.</p>
<p>Kota berubah dengan cara yang tidak kita perhatikan, sampai sesuatu yang kita anggap latar belakang tiba-tiba hilang dan baru kita sadari ada.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title>Catatan Akhir Tahun yang Tidak Terkirim</title>
			<link>https://roger.wenas.my.id/catatan-akhir-tahun-tidak-terkirim</link>
			<guid isPermaLink="true">https://roger.wenas.my.id/catatan-akhir-tahun-tidak-terkirim</guid>
			<pubDate>Tue, 10 Mar 2026 01:00:00 GMT</pubDate>
			<description>Setiap akhir tahun, saya menulis surat untuk seseorang yang tidak akan pernah membacanya. Inilah yang saya pelajari setelah lima tahun.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mulai kebiasaan ini lima tahun lalu, malam tahun baru, di sebuah hotel kecil di Bandung. Saya menulis surat panjang untuk seorang teman. Saya tidak mengirimnya.</p>
<p>Tahun berikutnya, saya menulis lagi. Tidak mengirim. Tahun berikutnya, lagi. Sampai sekarang.</p>
<h2>Untuk siapa</h2>
<p>Suratnya selalu untuk orang yang sama. Bukan teman dekat, bukan pasangan. Hanya orang yang dulu pernah dekat, lalu tidak lagi, lalu tetap saja saya pikirkan setiap akhir tahun.</p>
<p>Awalnya saya pikir saya menulis untuk dia. Setelah dua tahun, saya sadar saya menulis untuk <strong>diri saya sendiri yang setahun lalu</strong> — diri yang tidak tahu apa yang akan terjadi tahun ini, yang masih menyimpan asumsi-asumsi yang akan dipatahkan oleh dua belas bulan ke depan.</p>
<h2>Apa yang terjadi</h2>
<p>Surat-surat itu saya simpan di laci yang sama. Lima surat sekarang. Tidak pernah saya buka kembali.</p>
<p>Sampai bulan lalu, ketika saya pindah rumah, dan harus mengeluarkan isi laci.</p>
<p>Saya membaca semuanya. Saya tidak mengenali orang yang menulis surat pertama. Dia terdengar lebih harapan, lebih marah, lebih percaya bahwa dunia berhutang padanya. Surat kelima — yang saya tulis tiga bulan lalu — terdengar seperti orang yang sudah menyerah dengan banyak hal, tapi tidak dengan cara yang menyedihkan. Dengan cara yang tenang.</p>
<h2>Yang akan saya tulis tahun ini</h2>
<p>Saya belum tahu. Mungkin saya akhirnya akan kirim salah satu surat itu — bukan yang baru, tetapi salah satu dari lima yang lama. Mungkin tidak. Tetapi saya tahu satu hal: saya tidak akan berhenti menulis.</p>
]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>