Roger Wenas

22 Apr 2026 362 kali dibaca

Teknologi Bahasa Pemrograman

Tahun-Tahun yang Sulit

Antara 2016 dan 2018, banyak yang mengira Rust akan tetap di pinggiran. Bahasa yang menarik untuk dipelajari, tapi belum siap untuk produksi.

Antara 2016 dan 2018, Rust mengalami fase yang jarang dibicarakan: pertumbuhan yang lambat dan kadang menyakitkan.

Bahasa-nya stabil. Compiler berfungsi. Cargo bekerja dengan baik. Tetapi ekosistem masih tipis, dan adoption industri belum datang.

Di forum, pertanyaan yang sama berulang: kapan async/await? Kapan IDE yang benar-benar bagus? Kapan ada library web yang matang?


Async adalah saga panjang. Sebelum 1.0, tim eksperimen dengan green threads dan model tipis di atas OS thread. Kemudian dibuang. Async/await yang ergonomis butuh banyak fondasi: stable impl Trait, futures library (yang sendiri dirilis ulang berkali-kali), pin-projection, runtime executor.

tokio adalah library executor yang akhirnya jadi de-facto. Tapi awalnya ada mio, lalu futures-rs 0.1, lalu rewrite ke 0.3, lalu integrasi dengan async/await syntax. Setiap tahap menyakitkan untuk early adopter — kode mereka harus ditulis ulang setiap kali.

Rust 1.39 di November 2019 akhirnya membawa async/await stabil. Empat tahun setelah 1.0.


IDE story sama panjang. RLS (Rust Language Server) versi pertama lambat, tidak lengkap, dan memakan memori berlebihan. Pada 2018, Aleksey Kladov meluncurkan rust-analyzer — proyek personal yang awalnya dipersepsi sebagai eksperimen. Tahun 2020, rust-analyzer menjadi resmi dan menggantikan RLS.

Sekarang VS Code dengan rust-analyzer adalah standar. Tapi sampai 2020, programmer Rust hidup dengan auto-complete yang bocor dan goto-definition yang sering miss.


Library web lebih lama lagi. Iron lahir, lalu mati. Hyper matang sebagai HTTP library tetapi terlalu rendah-tingkat untuk aplikasi langsung. Rocket muncul 2017 dengan sintaks ergonomis, tapi butuh nightly Rust selama bertahun-tahun karena bergantung pada fitur eksperimen.

Actix-web cepat dan stable, tetapi penulisnya sempat menggunakan banyak unsafe dengan cara yang kontroversial. Komunitas terbelah. Penulisnya menarik diri. Proyek diambil alih komunitas dan distabilkan.

Axum baru muncul 2021 dari tim Tokio sendiri. Sederhana, idiomatik, dan akhirnya solusi yang paling banyak diadopsi.


Selama tiga tahun ini, banyak yang mengira Rust tidak akan pernah keluar dari niche. "Bahasa yang menarik untuk dipelajari, tapi belum siap untuk produksi." Itu kalimat yang sering muncul di Hacker News tahun 2017.

Yang menyelamatkan Rust dari nasib bahasa-bahasa "menarik tapi gagal" adalah dua hal: tim core yang tidak buru-buru, dan industri yang mulai diam-diam mengadopsi.

Dropbox memindahkan sebagian sistem penyimpanan ke Rust 2016. Cloudflare mulai pakai Rust untuk critical path tahun 2017. Discord menulis ulang state service mereka dari Go ke Rust 2020.

Tetapi adopsi industri yang benar-benar mengubah Rust akan datang dari tempat yang tidak terduga.

Tulisan terkait

Mungkin terkait

Berdasarkan kemiripan isi tulisan.