Roger Wenas

1 Mei 2026 29 kali dibaca

Teknologi Umum

Dari Free Tier ke Sponsor

Februari 2011. Cloudflare baru lima bulan berdiri, nyaris tidak ada yang menyebut nama mereka di komunitas Indonesia. Saya alihkan nameserver satu situs teman — dan tidak pernah pindah lagi. Lima belas tahun kemudian, blog ini sepenuhnya di stack mereka, dan beberapa minggu lalu, saya disponsori.

Awal 2011. Saya bantu teman yang punya situs kecil — toko sederhana di shared hosting Indonesia. Bandwidth-nya tipis, dan setiap kali ada traffic spike, halaman lambat sampai tidak ke-load.

Saya cari cara supaya situsnya cepat tanpa harus pindah hosting. Ketemu satu thread yang membahas Cloudflare — startup yang baru saja keluar dari TechCrunch Disrupt September tahun sebelumnya. Tim kecil, datacenter masih bisa dihitung jari. Belum ada yang membahasnya di sini.

Saya daftar, alihkan nameserver, tunggu propagasi DNS. Selesai dalam sehari.

Yang ditawarkan saat itu bukan cerita DDoS protection mewah — mereka belum punya marketing itu. Yang ditawarkan: caching gratis di edge, dan janji bahwa situs jadi cepat tanpa pindah server. Untuk Indonesia yang waktu itu rata-rata routing ke Singapore atau US West, edge caching berarti perbedaan tiga detik vs satu detik.

Itu kontak pertama saya dengan Cloudflare. Dashboard-nya masih sangat sederhana. Tapi sudah jalan.


Lima belas tahun berikutnya, saya pakai Cloudflare untuk hampir semua project yang butuh CDN, proteksi dasar, atau sekadar SSL gratis.

SSL — itu cerita yang sering dilupakan. Sampai 2014 ketika Cloudflare merilis Universal SSL, sertifikat HTTPS itu barang berbayar. Tiga puluh dolar setahun untuk yang murah, ratusan untuk wildcard. Cloudflare membuatnya gratis sebelum Let's Encrypt populer, dan tanpa konfigurasi apa pun di origin.

Yang menarik: free plan mereka tidak pernah dilemahkan. Tidak ada throttle yang sengaja dipasang untuk memaksa upgrade. Tidak ada upsell mingguan. Plan gratis tetap bermakna selama satu setengah dekade.

Pendekatan ini langka. Banyak vendor cloud — termasuk yang besar — perlahan-lahan menggembos free tier mereka untuk migrasi ke paid. Cloudflare malah sebaliknya: fitur baru sering masuk dulu di free, baru ada batasan di paid setelahnya.


2018. Cloudflare merilis Workers — JavaScript runtime di edge, V8 isolates yang lebih ringan dari container. Saya skeptis. "Belum stabil," pikir saya.

Saya salah. Workers berkembang cepat. 2020 ada Pages untuk static site. 2021 R2 beta untuk object storage tanpa egress fee. 2022 D1 beta — SQLite di 200+ datacenter di seluruh dunia. 2023 Queues, Workers AI inference.

Setiap rilis terasa seperti bahan baku baru yang ditaruh di meja saya. Boleh pakai, tidak harus pakai. API-nya konsisten — kode Worker yang ditulis 2020 masih jalan di 2026 dengan signature yang sama.


2025, saya mulai memindahkan project-project ringan ke Cloudflare Workers. Hosting tradisional yang $20/bulan jadi $0 di Free plan dengan throughput yang lebih cepat. Tidak ada yang komplain.

Awal 2026, saya menulis ulang blog ini. Stack-nya pure Cloudflare: SvelteKit + adapter-cloudflare + D1 + R2 + Workers + Zero Trust untuk dashboard.

Tidak ada server tradisional. Tidak ada VPS yang harus saya patch. Tidak ada bill yang berkembang dengan traffic. Latensi global rata-rata 50ms.


Beberapa minggu lalu, telepon saya berdering — nomor luar negeri. Tim Cloudflare Developer Relations. Setelah perkenalan singkat, kami lanjut via WhatsApp. Mereka melihat blog dan beberapa kontribusi saya ke ekosistem. Mereka menawarkan sponsorship — dukungan untuk konten teknis yang saya tulis, plus credit Cloudflare di tempat-tempat yang saya rasa pas.

Saya tidak pernah meminta. Saya tidak pernah bayangkan. Saya bilang ya.

Bukan karena kompensasinya besar — itu modest. Bukan karena saya pikir saya berhak. Saya bilang ya karena Cloudflare adalah salah satu sedikit perusahaan teknologi yang saya pakai selama lima belas tahun tanpa pernah merasa dimanfaatkan.


Yang saya tulis di blog ini tidak akan berubah karena sponsorship. Saya tetap akan menulis kritik kalau ada produk Cloudflare yang membingungkan atau tidak matang. Saya tetap akan merekomendasikan vendor lain kalau lebih cocok untuk kasus tertentu.

Apa yang berubah: badge kecil di footer dengan tulisan "Disponsori oleh Cloudflare". Itu pengakuan bahwa infrastruktur yang menjalankan blog ini — termasuk membuatnya cepat di Indonesia — adalah produk mereka.


Cloudflare punya kekurangan. Workers CPU time per request terbatas (50ms di free). D1 masih beta untuk fitur-fitur tertentu. R2 belum punya stream resumable yang sederhana. Email Workers belum lengkap. Dokumentasi kadang lambat update mengikuti rilis.

Tapi tradeoff-nya jujur. Mereka tidak berpura-pura sempurna. Setiap limitation diumumkan. Setiap roadmap dipublikasikan terbuka.

Itu yang saya hargai dari satu setengah dekade pakai mereka. Bukan karena tools-nya selalu terbaik — kadang AWS lebih cepat, kadang Vercel lebih ergonomis, kadang Fly.io lebih sederhana. Tapi Cloudflare paling konsisten.


Disponsori bukan endorsement penuh. Ini hubungan kerja yang transparan: mereka mendukung tulisan saya, saya tetap menulis dengan sudut pandang saya sendiri.

Yang dimulai dengan satu situs teman yang lambat di shared hosting, lima belas tahun kemudian jadi alasan blog ini ada di tangan Anda dengan kecepatan yang Anda anggap biasa.

Itu cerita yang tidak saya rencanakan. Tapi tidak banyak cerita teknologi yang dimulai dengan rencana.

Tulisan terkait

Mungkin terkait

Berdasarkan kemiripan isi tulisan.