1 Mei 2026 4 kali dibaca
Anggaran yang Belum Terlihat
Project yang saya mulai 4 Februari 2026. Target-nya tidak menunggu setahun penuh untuk go-live — modul demi modul jalan duluan. Bisnis plan tertutup. Anggaran operasional tahunan saat sistem berjalan penuh: sekitar Rp 1.1 miliar. Ini stack teknologi yang sedang saya susun.
Project ini dimulai 4 Februari 2026. Tiga bulan sudah jalan, dan target-nya tidak menunggu setahun penuh untuk go-live — sistem harus operasional dalam hitungan bulan, modul demi modul, tidak ditunda ke 2027. Bisnis plan-nya belum bisa saya buka, sebagian stakeholder belum siap muncul ke publik.
Yang bisa saya ceritakan: anggaran sudah disusun. Operasional tahunan saat sistem jalan penuh ada di kisaran Rp 1.1 miliar. Komponen teknis-nya bisa saya jabarkan tanpa menyebut produknya.
Singkatnya: platform untuk pengguna profesional dan ASN — dipakai oleh beberapa institusi pemerintah sekaligus komunitas profesi yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia. Targetnya melayani ribuan pengguna aktif sejak hari pertama go-live, akan tumbuh ke puluhan ribu kalau roll-out penuh. Fungsi-nya mencakup direktori, kolaborasi dokumen, sertifikasi, pelatihan video, dan beberapa alur administratif yang sebelumnya manual.
Ini bukan startup. Tidak ada exit strategy. Ini sistem yang dirancang untuk hidup 10–15 tahun. Anggaran disusun dengan view jangka panjang — bukan untuk tahun depan, tapi untuk dekade berikutnya.
Tiga bulan pertama (Februari–Mei) isinya arsitektur, prototipe, validasi vendor, dan beberapa skrip migrasi data dari sistem lama. Biaya-nya masih kecil — sekitar Rp 50–80 juta total untuk fase ini. Tahap berikutnya: rolling launch — modul yang sudah siap mulai jalan dulu, tidak menunggu seluruh sistem rampung. Tagihan steady-state naik bertahap mengikuti user-base yang masuk. Anggaran tahunan saya susun untuk operasional penuh, bukan untuk fase ramp-up ini.
Compute & edge runtime — sekitar Rp 200 juta per tahun
Cloudflare Workers Standard sebagai layer utama. Workers for Platforms untuk script per-tenant — komunitas-komunitas regional yang masing-masing butuh kustomisasi. Durable Objects untuk state real-time: chat per kelompok, presence indicator, lock untuk dokumen yang sedang di-edit kolaboratif. Queues untuk background job — generate sertifikat PDF, kirim notifikasi mass, sync data ke sistem lama.
Workers Standard ~$200 per bulan, WfP ~$300, Durable Objects ~$200, Queues ~$50. Total $750–1.000 per bulan, sekitar Rp 12–16 juta.
Kenapa edge runtime, bukan VM? Tiga alasan: latensi rata-rata di bawah 50ms tanpa konfigurasi (Indonesia tersebar di pulau-pulau, edge POP membantu); auto-scale saat traffic spike (jadwal sertifikasi serentak bisa naikkan trafik 20x dalam satu jam); billing yang selaras dengan pemakaian.
Database — sekitar Rp 220 juta per tahun
Postgres di Supabase Team plan ($599 per bulan base) plus compute add-on yang substantial — query analytic untuk laporan, full-text search untuk pencarian dokumen, beberapa ratus tabel dengan relasi yang dalam. Total Supabase ~$1.000 per bulan saat steady-state.
Hyperdrive (Cloudflare) untuk connection pooling dari Worker — supaya Worker yang ratusan instance tidak exhaust connection limit Postgres. ~$30 per bulan.
D1 untuk metadata sederhana, registry tenant, dan log audit yang ditulis cepat-cepat. ~$50 per bulan.
Redis (Upstash) untuk cache lapis ketiga di antara Worker memory dan Postgres. Hot data — sesi, leaderboard, konfigurasi tenant — hidup di sini. ~$50 per bulan.
Storage & media — sekitar Rp 240 juta per tahun
R2 untuk file user upload (dokumen, foto profil, lampiran). Storage-nya kecil ($0.015/GB/bulan), tapi yang signifikan adalah egress yang gratis — pembeda terbesar dari S3 untuk platform yang user-nya sering download dokumen sendiri. ~$200 per bulan saat sudah ramai.
Stream untuk video pelatihan. Ribuan jam video pelatihan akan di-host di sini. Pricing-nya $1 per 1.000 menit watched + $5 per 1.000 menit stored. Karena video diharapkan sering ditonton (puluhan ribu sesi per bulan saat live), komponen ini paling besar di kategori storage — ~$700–800 per bulan.
Cloudflare Images untuk kompresi dan resize foto profil + banner — ~$50 per bulan.
Auth, communication, observability — sekitar Rp 160 juta per tahun
Supabase Auth untuk identitas dasar (email + OTP). Untuk institusi besar, kami pakai SAML/SSO ke directory mereka via add-on Auth Enterprise — ~$100 per bulan.
Email transactional via Resend atau Postmark, ~$50 per bulan.
SMS OTP via penyedia lokal — sebagian user di daerah lebih nyaman dengan SMS daripada email, dan SMS Indonesia tidak murah. ~$200–300 per bulan tergantung volume.
Sentry untuk error tracking, BetterStack untuk uptime + log. Total ~$200 per bulan.
Cloudflare Zero Trust untuk akses tim teknis ke dashboard internal — ~$50 per bulan.
AI inference — sekitar Rp 120 juta per tahun
Beberapa fitur platform pakai LLM: ringkasan dokumen, kategorisasi otomatis, pencarian semantik. Vendor: campuran Workers AI (untuk model yang sudah ada di edge), Anthropic API (untuk request yang butuh quality lebih), dan Cloudflare Vectorize untuk vector store.
Pricing AI fluktuatif — turun terus sejak 2024, tapi pemakaian juga naik. Estimasi steady-state: sekitar $500–600 per bulan.
DevOps & sisanya — sekitar Rp 120 juta per tahun
GitHub Team + Actions untuk CI/CD, Linear untuk tracking issue, 1Password Business untuk secret sharing tim. Domain renewal puluhan domain untuk tenant, code signing certs untuk client app yang harus signed, backup off-site di Backblaze B2 untuk skenario worst-case.
Total vendor cost saat steady-state: di kisaran Rp 1.05–1.1 miliar per tahun. Tergantung bulan, kadang naik karena traffic spike (musim sertifikasi, periode pendaftaran), kadang turun.
Pos cadangan yang sudah dialokasikan tapi tidak cair tiap bulan: backup tahunan ke arsip jangka panjang, audit keamanan eksternal setiap 18 bulan, budget cadangan untuk migrasi vendor kalau diperlukan. Itu sudah masuk dalam total di atas, dirata-ratakan.
Pertanyaan yang sering muncul: "kenapa tidak buat sekalian dengan vendor satu pintu — Azure, AWS — lebih simpel?"
Tiga alasan: vendor lock-in yang lebih sulit di-unwound, biaya egress yang besar di hyperscaler (untuk platform yang banyak mengeluarkan file ke user, R2 menghemat puluhan juta per tahun), dan kemampuan memilih komponen yang paling cocok per layer (Postgres yang matang dari Supabase, edge runtime dari Cloudflare, AI dari multi-vendor) daripada terkunci di stack tunggal.
Ada trade-off: lebih banyak vendor = lebih banyak SLA yang harus dipantau, lebih banyak billing yang harus direkonsiliasi tiap bulan. Itu pekerjaan yang nyata, dan saya bayar dengan waktu.
View jangka panjang: tahun ke-empat, ke-lima, kalau platform-nya bertahan, biaya per pengguna turun. Fixed cost (database, edge, observability) tetap, sementara pengguna bertambah. Project ini dirancang dengan asumsi 10–15 ribu pengguna aktif di tahun ke-tujuh — kalau tercapai, biaya per pengguna jadi sekitar $10–15 per tahun. Itu dalam rentang yang bisa di-cover model funding institusi-nya.
Kalau tidak tercapai? Anggaran tetap ada, tapi biaya per pengguna jadi lebih mahal, dan stakeholder akan minta justifikasi. Itu risiko yang masuk akal — bukan risiko yang dihindari.
Saya tidak akan membahas project-nya secara langsung sebelum waktunya. Tapi mendokumentasikan stack-nya — biaya, pilihan vendor, alasannya — itu sesuatu yang saya bisa lakukan, dan kadang berguna untuk teman-teman yang sedang menyiapkan platform serupa.
Bukan template untuk diikuti. Tapi titik referensi — angka kasar, arah pemikiran. Untuk Anda yang sedang menghitung anggaran proyek yang masih dalam pikiran: ini salah satu kemungkinan bentuknya.