Roger Wenas

Yang Tertinggal di Ruang Tunggu

27 Apr 2026 · 11 menit baca

Pukul 23:47, papan kedatangan masih menampilkan status yang sama: DELAYED. Tidak ada estimasi baru. Tidak ada pengumuman. Hanya bunyi sepatu petugas kebersihan yang menyeret ember dari ujung ke ujung lorong yang nyaris kosong.

Saya sudah duduk di bangku besi yang sama selama tiga jam. Buku yang saya bawa sudah selesai dibaca. Baterai laptop habis. Yang tersisa hanya satu hal yang terus saya tolak akui: kebiasaan menunggu sudah tidak saya miliki lagi.

Dulu, menunggu adalah kerja

Generasi orangtua saya menunggu sebagai bagian dari rutinitas. Surat butuh dua minggu. Kabar dari kerabat di kota lain perlu telegram. Bahkan untuk berbicara dengan mertua, ibu saya harus mengantre di wartel selama setengah jam.

Mereka tidak menunggu dengan tidak sabar. Mereka bekerja dengan menunggu. Membuat kopi, menyulam, mendengarkan radio. Menunggu adalah kondisi default, bukan gangguan.

Hari ini saya tidak bisa lagi seperti itu. Setiap dua puluh detik tangan saya merogoh saku, mencari ponsel yang batterynya sudah habis, mencari distraksi. Menunggu, tanpa input baru, tanpa scroll, tanpa notifikasi — terasa seperti kekerasan.

Yang akhirnya datang

Pukul 02:14, pesawat itu mendarat. Saya berdiri di depan pintu kedatangan internasional, di antara puluhan orang lain yang juga sudah lupa kapan terakhir mereka tidur.

Sosok yang saya tunggu — dia tidak datang. Bukan karena ada masalah; dia memang tidak ada di pesawat itu. Saya salah hari. Saya salah bandara, mungkin. Saya hanya tahu bahwa selama tiga jam saya menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang, dan ironisnya itulah momen di mana saya akhirnya berhenti memeriksa ponsel.