Roger Wenas

"Saya Tidak Pernah Berniat Jadi Penulis"

8 Apr 2026 · 22 menit baca

Pak Anton — bukan nama sebenarnya — meminta saya tidak menyebut nama majalahnya. "Sudah lama. Kasian yang sekarang masih kerja di sana." Dia tertawa, lalu menambah, "Lagipula, sudah tutup."

Kami duduk di teras warung kopinya di Salatiga. Pukul sebelas pagi, sepi. Hanya ada saya, dia, dan seorang kucing oranye yang tidak henti-hentinya berusaha duduk di laptop saya.

Awalnya

"Saya masuk majalah itu karena tidak diterima di mana-mana," katanya, sambil menggiling biji kopi sendiri di meja. "Saya kira jadi editor itu pekerjaan administratif. Mengoreksi typo, atur layout, beres."

Pak Anton tidak pernah berniat menulis. Dia kuliah hukum, gagal jadi pengacara, lalu mendaftar ke majalah berita karena seorang tantenya kenal pemiliknya.

"Tahun pertama, saya cuma proofread. Tahun kedua, ada wartawan yang bunuh diri — maaf, tapi itu yang terjadi — dan saya disuruh menulis obituari karena kantor sedang kacau. Setelah itu, saya tidak pernah kembali ke proofreading."

Yang dia rindukan

"Yang saya rindukan dari majalah itu bukan deadline," katanya. "Bukan ruang redaksi yang gaduh. Bukan juga diskusi panjang soal headline. Yang saya rindukan adalah perasaan bahwa saya sedang menulis untuk seseorang yang spesifik."

Dia menyajikan kopi kepada saya. V60 Single Origin, katanya, asal Garut. Dia tidak memberi gula, dan saya tidak meminta.

"Sekarang orang menulis untuk algoritma. Tidak salah. Tapi rasanya beda. Dulu saya menulis sambil membayangkan satu pembaca. Ibu rumah tangga di Bandung yang langganan majalah itu tiga belas tahun. Kalau saya nulis cerita panjang, dia yang saya pikirkan."

Sekarang

Pak Anton tutup majalah itu tahun 2018. Dia pindah ke Salatiga karena udaranya dingin dan tidak ada yang mengenalnya. Warung kopinya tidak punya nama — papan di depan cuma bertulis "kopi".

"Saya masih menulis," katanya. "Catatan tangan, di buku. Bukan untuk siapa-siapa. Kadang saya bakar."

Saya tanya kenapa dibakar. Dia diam beberapa detik, lalu menjawab:

"Karena yang sudah ditulis untuk dirimu sendiri, tidak perlu ada lagi setelah dibaca."