Stasiun Lempuyangan, Setelah Hujan
25 Mar 2026 · 8 menit baca
Hujan deras baru saja berhenti waktu saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Lantainya masih basah, atap kanopi besi tua itu masih meneteskan air dengan ritme yang aneh — tidak teratur, tetapi tidak juga sembarangan.
Saya menunggu kereta ke Solo. Sebenarnya saya tidak harus pergi ke Solo. Saya hanya ingin pergi.
Bangku panjang itu
Di bangku panjang dekat peron, ada seorang ibu menyusui bayinya, ditutupi selendang batik. Di sebelahnya, suaminya tertidur dengan tangan masih memegang gelas kopi plastik. Di seberang, dua remaja main HP tanpa bicara satu kata pun selama empat puluh menit saya duduk di sana.
Stasiun bukan tempat yang pernah saya pikirkan. Bandara terasa seperti hal — teknologi, sterilisasi, sistem. Stasiun terasa seperti orang. Berbeda kelas, beda tujuan, semuanya di satu lantai yang sama, semuanya menunggu hal yang sama: kereta.
Kereta saya datang
Pukul 19:48, kereta saya datang. Saya naik. Tidak ada yang spesial dari perjalanan itu. Tiga jam ke Solo, satu malam tidur di hotel kecil, lalu pulang besoknya naik kereta yang sama dari arah berlawanan.
Tetapi sesuatu mengganjal: saya pulang dengan tenang yang tidak saya bawa pergi.