Roger Wenas

Pelajaran dari Tiga Tahun Bekerja Sendirian

1 Apr 2026 · 16 menit baca

Tiga tahun lalu saya berhenti dari kantor terakhir saya. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada tawaran lebih baik. Saya berhenti karena saya yakin saya bisa kerja sendiri, lebih bebas, lebih produktif.

Tiga tahun kemudian saya menulis ini di sebuah kafe yang penuh, sengaja memilih tempat ramai, karena tidak tahan lagi mendengar suara saya sendiri.

Pelajaran #1: Produktivitas itu mitos

Bulan pertama saya mengerjakan proyek empat kali lebih cepat dari di kantor. Tidak ada meeting. Tidak ada interupsi. Tidak ada politik.

Bulan kelima, saya mulai menyadari saya sedang menyelesaikan tugas-tugas yang seharusnya tidak saya kerjakan sama sekali. Tidak ada yang menanyakan, "kenapa kita melakukan ini?" Tidak ada yang menggugat asumsi saya.

Output saya tinggi. Outcome saya nol.

Pelajaran #2: Kesepian itu menular ke kode

Lihat repo saya dari tahun pertama: kode rapi, dokumentasi minim, tidak ada test. Saya pikir saya sedang efisien. Sebenarnya saya sedang menulis kode yang hanya saya yang bisa baca, karena tidak ada orang lain yang akan membacanya.

Setelah dua tahun, saya buka ulang kode itu untuk mengerjakan fitur baru. Saya tidak mengerti tulisan saya sendiri.

Berkolaborasi membuat kode lebih sederhana, walaupun terasa lebih lambat. Itu trade-off yang saya remehkan.

Pelajaran #3: Yang sebenarnya saya hindari

Saya kira saya menghindari meeting yang tidak produktif, manajer yang membuat keputusan buruk, kolega yang lambat respon.

Yang sebenarnya saya hindari: harus diadu pendapat saya dengan orang lain yang tidak satu kepala dengan saya. Itu lebih nyaman dihindari, tapi itu juga di mana ide saya seharusnya terbentur dan kemudian membaik.

Tiga tahun bekerja sendiri, saya sadar saya bukan jadi lebih cerdas. Saya hanya jadi lebih nyaman dengan kebodohan saya sendiri.

Yang saya akan lakukan

Saya tidak akan masuk kantor lagi — itu bukan jawaban juga. Tapi saya mulai mencari teman kerja: bukan kolega, bukan klien, tapi satu atau dua orang yang mau saya tidak setujui secara teratur.

Itu, ternyata, yang saya butuhkan dari awal.