Roger Wenas

Tentang Membaca Ulang Surat Lama

15 Apr 2026 · 9 menit baca

Kotak itu sudah saya simpan selama dua belas tahun. Pindah rumah empat kali, dia ikut. Tidak pernah saya buka, tapi tidak pernah pula saya buang.

Minggu lalu, saat membersihkan gudang, saya akhirnya membukanya. Di dalamnya: surat-surat tulisan tangan dari masa SMA, beberapa kartu pos dari teman yang sekarang sudah meninggal, dan satu buku catatan dari tahun pertama kuliah.

Yang saya baca

Saya membaca semuanya dalam satu malam. Sekitar tiga jam. Beberapa kali harus berhenti untuk minum air, karena tenggorokan saya mengering — bukan karena emosi, tapi karena saya menahan napas.

Yang mengejutkan saya bukanlah betapa naifnya saya dulu. Itu sudah saya duga. Yang mengejutkan adalah betapa jujurnya saya dulu — pada diri sendiri, pada teman-teman, pada hal-hal kecil yang sekarang sudah saya lupa untuk perhatikan.

"Hari ini hujan deras dari pagi. Aku tidak ke kampus, dan rasanya tidak apa-apa. Mama bikin sayur asem."

Catatan itu, dari sembilan belas tahun yang lalu. Tidak ada yang penting di dalamnya. Tapi saya sadar: saya sudah lama tidak menulis kalimat sesederhana itu.

Yang akhirnya saya simpan

Saya tidak membuang isi kotak itu. Saya juga tidak menyimpan semuanya. Saya keluarkan beberapa surat dan satu kartu pos, lalu saya pasang di dinding kerja.

Bukan untuk nostalgia. Untuk pengingat: bahwa ada satu versi diri saya yang dulu lebih jujur dari yang sekarang, dan dia masih bisa diajak berbicara, kalau saya mau diam cukup lama.