Catatan dari Pinggir Rel Manggarai
22 Apr 2026 · 14 menit baca
Pukul 04:12, saya berdiri di jembatan penyeberangan stasiun Manggarai. Di bawah, rel-rel itu kosong, basah karena hujan yang baru saja berhenti. Lampu kuning sodium membuat semuanya terlihat seperti foto lama.
Di sini, sebelum kereta pertama dari Bogor datang, kota ini bukan milik penumpang. Ini milik mereka yang tidak tidur — penjual gorengan yang baru saja membongkar grobaknya, petugas kebersihan rel, anak-anak muda yang pulang dari kerja shift malam, dan orang-orang yang saya tidak tahu kemana mereka akan pulang.
Pak Karim
Saya berkenalan dengan Pak Karim di pojok peron. Dia menjual kopi sachet dan teh manis dari termos. Pelanggannya hanya petugas dan satu-dua orang seperti saya, yang entah mengapa ada di stasiun pukul empat pagi.
"Saya mulai jam tiga," katanya, sambil menuang teh ke gelas plastik kecil. "Kereta pertama keluar jam lima dua puluh. Sebelum itu, yang beli ya petugas saja. Tapi saya tetap datang. Kalau saya datang jam lima, sudah keduluan tukang kopi keliling."
Dia bekerja tujuh hari seminggu. Hari Lebaran libur dua hari. Itu sudah selama dua puluh tiga tahun.
"Dulu, jaman saya muda, jam segini banyak yang nongkrong di sini. Sekarang sepi. Anak muda sudah punya kopi enak di mana-mana."
Kembali ke peron
Kereta pertama datang pukul 05:24. Bukan dari Bogor — dari Bekasi. Tiga gerbong, hampir kosong. Beberapa orang yang naik bahkan tidak melirik papan jadwal. Mereka tahu rutenya, hafal dengan kerjanya, sudah selesai dengan keterkejutan apa pun.
Di sini, di pinggir rel, saya teringat sebuah hal yang sering dilupakan: kota tidak tidur, hanya berganti pemilik beberapa kali sehari.