Catatan Akhir Tahun yang Tidak Terkirim
10 Mar 2026 · 12 menit baca
Saya mulai kebiasaan ini lima tahun lalu, malam tahun baru, di sebuah hotel kecil di Bandung. Saya menulis surat panjang untuk seorang teman. Saya tidak mengirimnya.
Tahun berikutnya, saya menulis lagi. Tidak mengirim. Tahun berikutnya, lagi. Sampai sekarang.
Untuk siapa
Suratnya selalu untuk orang yang sama. Bukan teman dekat, bukan pasangan. Hanya orang yang dulu pernah dekat, lalu tidak lagi, lalu tetap saja saya pikirkan setiap akhir tahun.
Awalnya saya pikir saya menulis untuk dia. Setelah dua tahun, saya sadar saya menulis untuk diri saya sendiri yang setahun lalu — diri yang tidak tahu apa yang akan terjadi tahun ini, yang masih menyimpan asumsi-asumsi yang akan dipatahkan oleh dua belas bulan ke depan.
Apa yang terjadi
Surat-surat itu saya simpan di laci yang sama. Lima surat sekarang. Tidak pernah saya buka kembali.
Sampai bulan lalu, ketika saya pindah rumah, dan harus mengeluarkan isi laci.
Saya membaca semuanya. Saya tidak mengenali orang yang menulis surat pertama. Dia terdengar lebih harapan, lebih marah, lebih percaya bahwa dunia berhutang padanya. Surat kelima — yang saya tulis tiga bulan lalu — terdengar seperti orang yang sudah menyerah dengan banyak hal, tapi tidak dengan cara yang menyedihkan. Dengan cara yang tenang.
Yang akan saya tulis tahun ini
Saya belum tahu. Mungkin saya akhirnya akan kirim salah satu surat itu — bukan yang baru, tetapi salah satu dari lima yang lama. Mungkin tidak. Tetapi saya tahu satu hal: saya tidak akan berhenti menulis.